“kamu baik-baik aja kan?”
Ucapku pada perempuan yang baru saja kuselamatkan dari para jambret yang hendak mengambil tasnya, tampa bicara ia lansung mengambil tanganku dan meletakkan uang seratus ribu.
“Gila”
Bisikku dalam hati, apa yang di lakukan perempuan ini?, kenapa dia memberikannku uang setelah aku menolongnya?
“Aku rasa itu cukup, permisi”
Dia lansung pergi tampa menungguku menjawab kata-katanya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa dia lansung masuk kedalam mobilnya dan lansung pergi.
“Apa-apaan ini?, kenapa dia memberikanku uang?, apa maksudnya?”
Tanpa berfikir panjang langsung ku ambil motorku dan mengejarnya, sebenarnya aku mengenal perempuan itu, namanya Lyssa, dia mahasiswi satu universitas denganku, perilakunya yang sangat aneh membuat dia tidak mempunyai banyak teman, dan sekarang setelah aku menolongnya dari para preman itu dia malah memberikanku uang?, ini benar-benar gila.
*****
Begitu sampai dikampus lansung ku parkir motorku, hatiku belum tenang kalau belum mengembalikan uang ini, aku menolongnya bukan untuk mengharapkan imbalan apapun.
“Huh…, apa dia pikir semuanya bisa di bayar dengan uang?”
Ku percepat langkah ku mencari Lyssa.
“Do…, tunggu!, buru-buru amat!, mau kemana?”
Tiba-tiba dari belakang kudengar suara Rian memanggilku, aku pun menoleh kebelakang.
“Kenapa?, muka kamu kok cemberut begitu?”
“Liat Lyssa nggak?”
Dia menggeleng, kutarik nafas panjang lalu duduk di kursi yang ada di dekatku.
“Memangnya untuk apa kamu cari Lyssa?, tumben-tumbennya.”
“Gila Rian, benar-benar gila Lyssa itu!”
“Memangnya kenapa?”
Akhirnya kuceritakan kejadian yang ku alami tadi dan kutunjukkan juga uang yang diberikan Lyssa kepadaku.
“Aneh, kenapa dia seperti itu padahal kamu sudah menolongnya.”
“Itulah yang aku fikirkan sekarang, bantu aku mencari dia!”
Aku dan Rian akhirnya mencari Lyssa, susah sekali menemukan perempuan itu, aku mulai geram.
“Do, itu… Lyssanya.”
Aku melihat Lyssa sedang duduk berdua dengan Tiara, lansung saja ku hampiri mereka.
“Lyssa”
Dia melirik kearahku, tapi tidak menjawab panggilanku.
“Aku kesini untuk mengembalikan uangmu, aku tidak butuh uang ini, kamu fikir, aku menyelamatkan kamu dari para preman itu untuk mendapatkan uang ini?”
“Aku fikir kamu membutuhkanya, ambil saja”
Aku semakin geram, kutarik nafas panjang untuk mengendalikan emosiku, ingat Aldo, dia ini perempuan.
“Kamu fikir, semua hal didunia ini bisa ditukar dengan uang?”
“Aku fikir begitu, ”
Sekarang kesabaran ku benar-benar di uji oleh seorang perempuan aneh bernama Lyssa.
“Ada apa ini?, kamu kenapa aldo?”
“Temanmu ini, aku menolongnya dari para preman itu karna memang aku ingin menolongnya, bukan untuk memdapatkan uang ini, kalau seperti ini dia sama saka seperti menginjak-injak harga diriku sebagai laki-laki”
Tiara mulai bingung dengan keadaan ini, dahinya berkerut, sekali ia memandang ke arahku dan Lyssa.
“Jangan memperbesar masalah, aku tidak pernah memintamu untuk menolongku.”
Lyssa bangkit dan hendak pergi, aku semakin geram, spontan saja tanganku menarik tanganya, mungkin sedikit kasar tapi Lyssa sendiri yang memaksaku melakukannya.
“Tidak semua hal di dunia ini bisa dibayar dengan uang, ingat itu!”
“Terserah!!”
Lyssa melepas tanganku dengan kuat, aku tidak menyangka kalau dia mempunyai kekuatan yang lumayan besar untuk ukuran seorang wanita, lalu ia lansung pergi.
“Hei!!”
“Aldo, sudah, kamu tidak akan menang, Lyssa perempuan yang keras kepala, aku mohon agar kamu mau memaafkan dia, masalah ini biar aku yang bicarakan dengan Lyssa, aku mewakili Lyssa minta maaf ya?”
Tiara berusaha menenangkanku, aku sedikit lebih tenang, aku berjanji tidak akan mau berurusan lagi dengan perempuan aneh itu, Tiara lalu pamit pergi dari hadapanku, sekali lagi kutarik nafas panjang lalu duduk.
“Sudah lah Aldo, benar apa yang dikatakan Tiara, Lyssa itu keras kepala dan sampai kapanpun kamu tidak akan menang melawannya, biarkan saja”
“Tapi dia benar-benar aneh, aku tidak pernah menjumpai wanita seperti dia sebelumnya”
“Yang aku tahu, dia memiliki masa lalu yang menyedihkan.”
Aku terdiam, kupalingkan wajahku pada Rian.
“Maksud kamu?”
“Dulu, aku sempat satu SMA dengan Lyssa, dia memang dikenal aneh, tidak pernah mau bicara dengan orang lain, kecuali dengan Tiara, sahabatnya dari SMP, tidak ada yang tahu apa sebabnya, banyak yang bertanya pada Tiara tapi Tiara seolah-olah menyembunyikannya, dan sampai sekarang pun belum ada yang tahu kenapa Lyssa menjadi sangat aneh, kecuali Tiara.”
Penuturan Rian membuatku penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Lyssa, dari hati sepertinya aku mulai menyesal telah memperlakukan Lyssa seperti itu, suasana hening antara aku dan Rian, tiba-tiba tangan sebelah kananku menyentuh sesuatu, aku melirik kearah benda itu.
“Apa ini?”
Bisikku dalam hati, sebuah buku diary tebal dengan yang dililit pita bewarna emas.
“Kenapa?” Tanya Rian memalingkan wajahnya kearahku.
Kubuka lilitan pita emas yang melilit buku diary ini, dramatis mungkin karna lembarannya sudah suram bagaikan buku yang sudah berumur puluhan tahun.
Selamat datang di dunia ku diary, mulai sekarang kamu akan menjadi keluarga dan teman baru untukku.
Tulisan itu tertulis dengan rapi disampul depan, kubalik lagi ke halaman berikutnya.
Diary, sabtu 20 mei 2001
Selamat datang diary, namaku Alyssa umurku sepuluh tahun, aku senang sekali saat ibu memberikanmu untukku, aku jadi punya teman baru, karna nenek, Dimas dan Tia tidak mau berteman bahkan berbicara padaku, aku tidak tahu kenapa mereka seperti itu, tapi sekarang aku tidak perlu sedih lagi karna sekarang aku sudah punya kamu, temani aku sampai tak ada lagi kertas padamu yang bisa aku tulis.
Terimakasih.
Aku kaget, ini buku diary Lyssa, kenapa bias ada disini?, dan….tulisan yang ada pada halaman kedua diary ini, apakah ini awal dari semua cerita yang berkaitan dengan Lyssa?
“Hei, apa itu?, buku diary?, milik siapa?”
Rian menimpaku dengan seribu pertanyaan.
“Milik Lyssa.” Jawabku singkat.
“Mungkin dia meninggalkannya disini, kemarikan biar aku mengembalikannya.”
“Jangan dulu, kamu sama sekali tidak penasaran kenapa tingkah laku Lyssa jadi aneh sekarang?, buku diary ini Rian yang akan menjadi jawabannya, biarkan aku membawanya satu hari saja, setelah itu aku berjanji akan mengembalikannya.”
Jelasku panjang lebar, kulihat muka Rian tampak bingung, dia lalu menarik nafas panjang.
“Tapi…., kamu yakin ini tidak apa-apa?”
“Aku yakin, kita bisa tahu apa yang sebenarnya menimpa Lyssa di masa lalu sehingga dia jadi seperti ini, kalau kita mengetahuinya mungkin kita bisa membantu membuat Lyssa jadi orang yang lebih baik lagi.”
“Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu, aku tidak mau membantumu.”
“Baik, kalau kamu percaya padaku, itu saja sudah cukup”
Dia memberikan senyum terpaksanya kearahku, langsung kumasukkan diary itu kedalam tasku lalu kami pun pergi.
*****
Hari ini adalah hari yang begitu melelahkan bagiku, bagitu sampai dirumah langsung kuparkir motorku di garasi rumah lalu masuk.
“Huft…..”
Kuhempaskan tubuhku kekasur, tapi aku kembali ingat akan diary Lyssa, spontan lansung kubuka tasku lalu mengambil buku itu.
“Semoga saja dari buku ini akan mendapatkan jawaban tentang semua keanehan sifat Lyssa”
Aku lansung melangkah menuju meja belajarku, dan tanpa menunggu lama lansung kubuka buku diary itu dihalaman ketiga.
Diary ku… rabu, agustus 2001
Aku bingung dengan sikap nenek yang sama sekali tidak perduli padaku, dua hari yang lalu nenek sakit dan aku sama sekali tidak boleh masuk untuk menjenguknya, padahal aku dan ibu sudah menyiapkan kue kesukaan nenek, tapi…. Yang membuatku lebih bingung adalah ketika mama Dimas memarahi ibuku, kenapa dia bilang kalau ibuku wanita murahan? murahan itu apa?, aku marah ketika melihat dia menampar ibuku, itu sudah sering terjadi dan aku tidak sanggup melihat ibu dimarahi terus oleh mereka, aku berjanji suatu saat akan kubalas perlakuan mereka kepada ibuku, aku berjanji….
Aku berjanji…..
Aku masih bingung dengan semua tulisan dibuku yang ada dibuku dihadapanku ini.
Diary… senin desember 2001.
Nenek sihir itu, dia meninggal…., biarkan saja, aku sama sekali tidak sedih, walaupun ibu memarahiku karna aku tidak mau melihat dia untuk yang terahir kalinya, aku sama sekali tidak peduli lagi, kenapa ibu masih peduli padanya sedangkan selama ini nenek sihir itu selalu menyiksa ibuku….
Aku tidak peduli….
Ku lanjutkan kehalaman berikutnya, tapi dihalaman ini aku sangat kaget, ada sebuah foto keluarga, namun seperti sudah tersobek-sobek dengan pisau, kulihat ada foto seorang laki-laki bersama dua orang perempuan yang duduk disamping kiri dan kanannya, dipangkuan perempuan yang duduk disebelah kiri terlihat ada dua orang anak yang tersenyum manis kearah kamera foto, sedangkan dipangkuan perempuan yang duduk disebelah kanan terlihat juga seorang anak perempuan, wajahnya merengut, aku mengerutkan keningku, apakah ini Lyssa?.
Foto keluarga yang sangat aku benci, aku menyesal kenapa ibu mau menikah dengan Heru Yanto, seharusnya 3 tahun yang lalu aku larang ibu menikah lagi, dan sekarang aku dan ibu harus menanggung kepedihan, bahkan ketika nenek sihir sudah meninggal…
Tulisan dengan huruf kapital di bawah foto membuat bulu romaku berinding, seperti inikah masa lalu yang dirasakan Lyssa, pantas saja Lyssa tidak pernah mau percaya pada orang lain.
Aku tak berhenti disana, kulanjutkan membuka kehalaman selanjutnya, semakin kehalaman selanjutnya semakin tragis kisah masa lalu Lyssa, puncak semua masalah ada saat ibu Lyssa meninggal dunia.
Selasa, Juni 2008
Baru tujuh hari setelah kematian ibu, aku semakin sendiri disini, sepertinya Dimas dan Tia sangat gembira dengan kematian ibu, kesedihan ini masih sangat kurasakan, aku berharap ibu bisa melihatku menuntaskan belajarku di universitas yang sangat ibu sukai, tapi sekarang semuanya tinggal harapan, ibu sudah pergi dan semua harapanku tidak akan terwujud, dan sekarang, aku harus seorang diri menghadapi mereka, haruskah aku terus tinggal dirumah ini?, rumah yang penuh dengan kebencian ini…
Aku benci disini…
Aku mengelus-elus dadaku yang terasa sakit, baru membaca kisah hidupnya saja aku sudah seperti ini, apa lagi kalau aku harus berada di posisi Lyssa, dari dalam hatiku timbul penyesalan yang teramat sangat dalam, mengingat peristiwa siang tadi dikampus membuatku malu pada diriku sendiri akan apa yang sudah kulakukan pada Lyssa.
Tapi aku tak berhenti dihalaman ini, kugerakkan tanganku membuka halaman selanjutnya.
Minggu, 19 Agustus 2008
Untuk pertama kalinya aku berkata kasar pada papa, aku sudah tidak tahan melihat Dimas dan Tia mengolok-olokku, menghina dan menyiksaku seperti binatang, ditambah lagi dengan mama yang semakin membuat suasana dirumah ini panas, haruskah semua terjadi padaku?
Rabu, 21 agustus 2008
Kini aku memutuskan untuk pergi dari rumah, tak perlu memberitahukan papa atau siapapun orang yang ada dirumah ini, aku akan pergi mencari kehidupanku sendiri, dengan caraku sendiri, hidup yang lebih baik lagi tampa harus hidup terus dirumah ini….
Kring…..
Saat sedang serius membaca, tiba-tiba saja handphoneku berdering, kulirik kearah layar.
Rian, memanggil..
“Ada apa Rian menelpon malam-malam seperti ini?, hallo…”
“Al, kamu dimana?, Tiara menelponku dan mengatakan Lyssa masuk rumah sakit, dia mengalami kecelakaan saat mencari buku diarynya, kamu cepat datang kemari dan bawa buku Lyssa, aku tunggu kamu dirumah sakit Cempaka sekarang ya?”
Hatiku berdegug kencang, Lyssa kecelakaan karna mencari buku diarynya?, ya Tuhan apa yang telah aku lakukan?
“Baik, aku segera kesana, tunggu aku!”
Segera kututup telponnya lalu bangkit dari kursiku.
*****
“Maaf suster, pasien bernama Alyssa yang tadi mengalami kecelakaan ada diruang mana?”
Tanyaku pada salah seorang perawat yang ada dirumah sakit.
“Pasien bernama Alyssa ada diruang ICU, anda bisa lurus saja lalu belok kiri”
“Terima kasih suster!”
“Iya sama-sama”
Aku semakin mempercepat langkahku, kulihat buku diary Lyssa yang ada ditangan kananku.
“Ini semua salahku, kalau saja aku tidak mengambil buku ini, Pasti Lyssa tidak akan mengalami kecelakaan, Lyssa, maafkan aku”
Aku tiba di depan ICU, disana ada Tiara dan juga Rian yang sedang menunggu kabar tentang Lyssa, aku segera menghampiri mereka.
“Bagaimana keadaan Lyssa?”
Tiara dan Rian menatapku.
“Kami belum tahu, dokternya belum keluar”
Jawab Rian, kulihat mata Tiara sembab, apakah dia menangis?, mungkinkah dia marah padaku?
“Tiara, maafkan aku, aku tidak menyangka akan terjadi seperti ini”
“Aku sudah dengar ceritanya dari Rian, mau bagaimana lagi?, semua ini sudah terjadi, aku sudah melarang Lyssa untuk pergi tapi dia sama sekali tidak mau mendengarkanku, sekarang dia harus mengalami hal seperti ini, dan aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa!”
Tangis Tiara kembali pecah, Rian merangkul dan berusaha menenangkannya, aku menarik nafas panjang, kembali kutatap diary yang ada ditanganku.
“Lyssa, kamu harus bertahan, harus!”
Tak lama kemudian, dokter yang sudah lama kami tunggu akhirnya keluar, aku, Tiara dan Rian segera mendekati dokter itu.
“Bagaimana keadaan Lyssa dok?”
Tanya Tiara, suaranya masih terisak-isak.
“Pasien mengalami pendarahan yang sangat hebat dibagian kepala, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, kami sudah melakukan segala hal untuk bisa menyelamatkan Pasien, tapi Allah berkehendak lain, Maaf, Pasien tidak bisa kami selamatkan, sabar ya?”
Bumi seolah runtuh menimpaku, Lyssa, dia sudah pergi?, ya Allah… kenapa ini bisa terjadi?
“Tidak mungkin dok, Lyssa pasti baik-baik saja, dokter bohong kan?, ayo bilang dokter pasti bohong kan?”
Tiara mulai berontak, dia menarik-narik baju sang dokter dengan sekuat tenaga mencoba memastikan bahwa temannya Lyssa belum pergi meninggalkannya.
“Maafkan saya, hanya ini yang bisa kami lakukan, Pasien tidak bisa kami selamatkan”
Dokter itu lansung pergi, aku hanya bisa terdiam melihat semua ini, Tiara semakin menangis, tangisannya mengiris hatiku, ini semua kesalahanku, ya Allah, ampunkanlah hambaMu ini, kalau saja aku tidak mengambil buku ini, Lyssa pasti tidak akan seperti ini.
Aku terduduk dikursi tunggu, berkali-kali kutarik nafas panjang, sementara Tiara masih terus menangis, Rian tak henti-henti berusaha menenangkannya, aku tidak pernah menyangka semua ini akan terjadi.
*****
Gerimis turun, langit seolah ikut menangis dengan kepergian Lyssa, ada banyak orang yang mengikuti pemakaman Lyssa, suasana berkabung sangat terlihat jelas, aku melihat kesekaliling orang yang berada dipemakaman, mataku terhenti pada seorang perempuan paruh baya yang berdiri sedikit jauh dari orang-orang lain.
Sepintas aku seperti mengenal wanita itu, kembali ku coba memutar ingatanku, dan…
“Dia ibu tiri Lyssa!”
aku hafal betul dengan wajah-wajah yang ada di foto diary Lyssa, dia adalah ibu tiri Lyssa, ibu dari Dimas dan Tia, tak berapa lama kemudian, kulihat dia pergi meninggalkan pemakaman.
Setelah pemakaman selesai, dan semua orang telah pulang, aku melangkahkan kakiku mencari Tiara, aku ingin tahu bagaimana kabarnya, tak berapa lama, aku menemukan Tiara ada di taman belakang rumah Lyssa.
“boleh aku duduk disini?”
Tiara menatapku, lalu tersenyum, matanya masih sembab.
“Tentu” akupun duduk disamping Tiara.
“Ini buku diary milik Lyssa, maaf aku sudah mengambilnya tampa izin, kalau saja aku mengembalikannya lansung, pasti peristiwa ini tidak akan terjadi, aku sangat menyesal”
“Sudahlah, ini mungkin sudah jadi takdir Lyssa, inilah yang dia inginkan”
“Maksud kamu?”
Tiara memalingkan wajahnya, angin yang berhembus pelan mengerakkan rambutnya yang panjang.
“Dari dulu dia ingin pergi menyusul ibunya, karna dia merasa dia hanya sendiri disini, kamu tahu kenapa aku bisa dekat dengan Lyssa?”
Aku mengerutkan dahiku, Tiara kembali melanjutkan kalimatnya.
“Saat masih SMP, aku juga pernah membaca buku diary Lyssa, dan sejak saat itu aku mulai mengerti apa sebenarnya yang membuat Lyssa begitu diam dan tidak mau bergaul dengan orang lain, dan sejak saat itu juga aku menjadi teman sekaligus keluarganya”
Tiara lalu berhenti dan mengambil buku diary Lyssa yang kuletakkan disamping kirinya.
“Saat Lyssa kabur dari rumah, dia tidak membawa apa-apa, hanya beberapa baju dan buku, dia datang kerumahku dan menceritakan semuanya, lalu ayahku memintanya untuk tinggal bersama kami, itu tidak berlangsung lama, setahun yang lalu ayah tirinya meninggal, dan memberikan sepertiga harta warisan kepada Lyssa, semenjak saat itu hidup Lyssa berubah menjadi lebih baik, dia mendapatkan rumah ini, mobil dan juga perkebunan teh”
“Aku belum membaca sampai kesana”
“Ya, lembaran buku ini habis dengan semua kisah pahit hidup Lyssa, tapi sekarang dia sudah tenang, disana, dia pasti bisa bertemu dengan ibu dan ayahnya, dan dia tidak akan sendiri lagi, kini aku yang menjadi sendiri”
Tiara menundukkan wajahnya, kulihat dia kembali meneteskan air mata.
“Tapi aku juga bahagia kalau Lyssa bahagia, kesendirianku ini tidak sebanding dengan kesendirian yang dirasakan Lyssa”
Suasana menjadi hening, kurasakan angin dengan lembut menerpa wajahku, kuletakkan tanganku dipundak Tiara.
“Tenang, aku yakin Lyssa pasti akan bahagia disana”
Tiara tersenyum kearahku, kini aku baru sadar akan satu hal, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, mungkin saja sesuatu dimasa lalu sudah merubah sikap dan perilakunya, tergantung dari orang yang berada disekelingnya yang bersedia membantu atau pun tidak agar orang tersebut bisa kembali kepada lingkungannya.
Sekarang aku yakin Lyssa pasti sudah tenang dan bahagia disana, dan satu sangat berarti yang akan dirasakan Lyssa, dia tidak akan lagi merasa SENDIRI…
THE END

