Jam tanganku menunjukkan pukul 11;00, aku telat satu jam untuk datang ketempat latihan vocal.
“semoga mereka tidak marah, pak!, bisa cepat sedikit?”
Ujarku pada Pakde, supir keluarga kami, tanpa pikir panjang Pakde lansung mempercepat jalan mobilnya.
Tepat jam 11;15 aku sampai, tanpa menunggu lagi, aku lansung melangkah masuk kedalam tempat latihan, seperti yang kuduga, semuanya sudah menunggu kedatanganku.
“Maaf, aku telat”
Kataku sambil masuk, semua mata lansung melihatku.
“Ya, selalu seperti ini” Ujar kak Putra tiba-tiba.
“Sudah satu jam kamu telat dan yang cuma kamu bilang maaf?”
Kak Dimas tiba-tiba bangun dan meletakkan gitarnya sambil terus menatapku.
“Aku kan sudah minta maaf kakak”
“Sebenarnya, kamu yang membutuhkan kami, atau kami yang membutuhkan kamu?, festifal musik ini untuk kamu Citra, bukan untuk kami”
Sahut Rian tiba-tiba, aku terdiam, semarah itukah mereka padaku, kulihat Nina hanya menunduk sambil terus terdiam, biasanya dia selalu membelaku, tapi kenapa hari ini tidak?
“Sekarang kita ambil keputusan?, kamu masih mau bergabung dengan kami atau tidak?” suara kak Dimas memecah suasana yang beku.
“Maksud kakak?”
“Kami tidak mau bekerja sama dengan orang yang selalu hanya mementingkan diri sendiri, yah…, kami tahu, studio ini milik pamanmu, tapi kami tidak pernah meminta untuk dimasukkan kedalam grup ini, kalau kamu memang tidak mau bekerja sama lagi, kita bisa bubar sekarang”
Aku keget, kenapa kak Putra berkata seperti itu?, aku sangat membutuhkan mereka, akan ada festifal musik minggu depan, dan aku tidak akan berarti apa-apa tanpa mereka.
“Kakak kenapa bicara seperti itu, aku kan sudah minta maaf, kenapa kita harus bubar?, minggu depan ada festifal musik, aku sudah mendaftarkan grup kita, sekarang?, kakak minta bubar begitu saja?”
“festifal ini untuk kamu, bukan untuk kami”
“Ini untuk kita kak!”
“Kalau untuk kita, kenapa kamu sama sekali tidak bisa tepat waktu?, sibuk apa kamu?, sampai-sampai harus telat sampai satu jam, minta maaf saja tidak cukup, ada setiap orang yang punya kesibukan masing-masing, karna kamu!, waktu kami terbuang sia-sia”
Nina yang semula diam kini ikut angkat bicara, dia tidak membelaku hari ini, malah justru membuatku semakin tersudut. Hatiku berdetag keras sekali, sekarang aku mulai marah.
“Aku kan sudah minta maaf, kalau kalian mau pergi, pergi saja!”
Bicaraku setengah membentak, mendengar hal itu, Rian membanting stick drumnya lalu dengan muka yang merah keluar dari ruangan.
“Baik, kalau itu mau kamu, kami keluar!”
Tampa banyak bicara lagi, kak Dimas dan kak Putra lansung meninggalkan ruang latihan, tinggal Nina sekarang yang hanya duduk diam sambil menatap tajam kearahku.
“Jangan menyesal, mulai sekarang, anggap saja kita tidak pernah kenal”
Selesai mengucapkan kalimat itu, Nina lansung berdiri dan melangkah ke arahku.
“Aku ingin melihat, bisa apa kamu tanpa kami, semoga berhasil”
Dia menepuk pundakku dan memberikan senyuman yang sangat aku benci lalu ikut pergi, kini aku tinggal aku sendiri dengan semua alat music yang bisu disini.
“Akan aku buktikan, aku bisa tanpa mereka, tapi…, apa yang harus aku lakukan sekarang?”
*****
Aku mulai kebingungan menciptakan nada untuk lagu yang baru, padahal festifal musiknya hanya tingal beberapa hari lagi, aku belum bisa menyiapkan apapun sekarang.
“Aku ingin melihat, bisa apa kamu tampa kami?”
Kata-kata Nina kembali terngiang ditelingaku, aku menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, dari hati rasa pesimis itu mulai muncul, mungkinkah aku memang tidak bisa apa-apa tanpa mereka?.
Kulangkahkan kakiku kejendela kamar, sebenarnya aku dan Nina adalah tetangga, kami berteman sejak Sekolah Dasar, dan sekarang aku tahu Nina sangat marah padaku, aku sadari mungkin selama ini aku terlalu mengharapkan bantuannya.
Dari balik malam kulihat Nina sedang duduk diblakon kamarnya, aku ikut keluar keblakon kamar, tak sengaja dia melihatku sejenak mata kami bertemu, tapi kemudian dia lansung masuk kekamarnya.
“Nin tunggu”
Panggilanku tak digubris olehnya, dia lansung masuk tampa melihat kearahku, rasa bersalahku semakin dalam, aku baru sadar kalau kesalahan yang aku lakukan sangat fatal untukku.
*****
“Pa, tolong carikan orang baru yang bisa masuk kedalam grup music Citra, minggu depan akan ada festifal music dan Citra belum mempersiapkan apa-apa”
Ucapku disela sarapan pagi, mendengar perkataanku, papa berhenti mengunyah rotinya.
“Orang baru?, kamu kan sudah punya grup sendiri, untuk apa harus mencari orang baru segala?”
“Ceritannya panjang, pa…, tolong…, kali ini saja, ya?”
Papa menyudahi makannya lalu bangun dari kursi sambil mengambil tas kerjanya.
“Jangan selalu meminta pertolongan pada orang lain, sekali-kali kamu harus bisa menyelesaikan masalahmu sendiri, lagi pula menurut papa, untuk apa menganti orang yang lama?, itu malah akan semakin menyendat kamu untuk mengikuti festifal itu”
“Benar apa yang dikatakan papa sayang, memangnya ada masalah apa sampai kamu mau teman-temanmu diganti dengan orang lain?, kalian kan sudah lama main music bersama-sama”
Sambung mama, aku mulai jengkel, kenapa papa tidak mau membantuku, begitu juga dengan mama, kali ini tidak ada yang berada dipihakku, setelah selesai sarapan aku lansung berangkat sekolah dengan diantar oleh kak Radit.
“Kakak sudah tahu apa masalahnya, ini memang kesalahan kamu dan kamu tidak bisa menuntut untuk mengganti mereka dengan orang yang baru, minta maaf saja maka semua masalahnya akan selesai”
“Tapi kak, mereka marah sama aku dan aku tidak tahu kapan mereka akan memaafkan aku, festifalnya tinggal beberapa hari dan kalau tidak ada mereka, aku tidak bisa ikut festifal itu”
Kak Radit tersenyum mendengar ucapanku,
“Kamu terlalu manja, pokoknya kali ini kakak tidak bisa membantu kamu, selesaikan masalah ini sendiri ya?”
Ujar kak Radit didepan sekolah lalu lansung pergi tampa memberikan solusi apapun dari masalahku, bukannya member solusi malah menasehatiku, dengan hati kesal aku melangkah menuju kelas, tapi tak kusangka saat hendak masuk aku berpapasan dengan Nina.
Hatiku berdegug dengan keras lagi, rasa bersalah itu kembali menyelimutiku, tapi masih sama dengan sikapnya semalam, Nina sama sekali tidak menegur atau bahkan melihat kearahku, dia terus saja berjalan seolah tidak pernah mengenalku.
“Anggap saja kita tidak pernah kenal”
Kata-kata itu, apa Nina benar-benar marah denganku? apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tet…
Suara bel istirahat berbunyi, seketika kelas menjadi sunyi hanya tinggal aku dan Nina didalam, haruskah aku bicara dengannya?
“Hai”
Sapaku dan lansung duduk didepannya, namun sapaku tidak dibalas.
“Nina” Sapaku lagi.
“Ada apa?”
Setelah sekian lama, hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya.
“Kamu marah?”
“tidak”
Tiba-tiba Nina bangun dari kursinya dan hendak pergi, spontan kutarik tangannya, dia berbalik sambil menatapku.
“Lepas, jangan ganggu aku”
“Tapi salahku apa Nin?, kemarin aku cuma telat, sekarang?, kamu malah menjauh dan bahkan tidak mau menegurku, ada apa?”
“Aku tahu, kamu tidak pernah serius dengan grup music itu, tapi kenapa baru sekarang kamu ungkapkan semuanya?”
Aku bingung apa yang dimaksud oleh Nina, tidak serius dengan grup music kami?
“Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu maksud”
“Ikut aku!”
Nina menarik tanganku dengan kuat sampai akhirnya kami tiba didepan majalah dinding sekolah kami.
“Baca ini!”
Mataku melirik kesebuah kertas dengan warna biru, diatas kertas aku melihat sebuah tulisan “Gosip terpanas SMA Kartika”, aku masih belum mengerti, kulirik keparagraf selanjutnya.
“Citra, memutuskan untuk keluar dari grupnya dan memilih untuk bersolo, Citra mengatakan kalau solo akan lebih menguntungkan baginya kedepan dibandingkan harus bercimpung didalam grup musik”
Mataku terbelalank, siapa yang menulis ini semua?, kapan aku mengatakan ingin keluar dari grup?, atau jangan-jangan..
“Cit, bagaimana menurut kamu?, akan lebih menyenangkan bermusik secara grup atau sendiri?”
Aku ingat dengan kejadian 3 hari yang lalu, aku didatangi oleh beberapa orang wartawan majalah dinding sekolah, tetapi seingatku, mereka hanya menanyakan pendapatku, aku tidak pernah menyatakan ingin keluar dari grup.
“Sekarang semuanya sudah jelas?, ini yang membuat kami semua marah, kami memang bukan apa-apa, hanya orang belakang panggung yang perannya memberikan kamu music, tapi seharusnya, kalau kamu memang ingin keluar dari grup, tidak perlu menyebarkannya kepada wartawan majalah dinding sekolah”
“Nin, dengar dulu penjelasan aku, aku sama sekali tidak pernah mengatakan hal ini pada wartawan majalah sekolah, ini semua salah paham”
Tidak menjawab penjelasanku, Nina lansung pergi aku terus memanggilnya tapi dia sama sekali tidak mau menoleh kebelakang, ya ampun…, seharusnya aku lebih hati-hati dengan perkataanku.
*****
“Lho, Citra rupanya, cari Nina ya?”
Hari ini aku putuskan untuk meminta maaf kepada Nina, aku tahu aku salah tapi hanya ini yang bisa aku lakukan sampai Nina mau memaafkanku.
“Iya tante, Ninanya ada?”
“Ada, sebentar ya tante panggilkan”
Tante Vina berlalu dari hadapanku, hatiku masih terus berdetag dengan cepat, maukah Nina menemuiku?.
“Ada apa?”
Tiba-tiba suara Nina membuyarkan lamunanku.
“Akhirnya kamu keluar juga, aku mau bicara Nin, kamu harus dengar dulu penjelasanku”
“Untuk apa?, aku rasa tidak ada lagi yang harus di bicarakan, semula aku memang sabar menghadapi sikap manja kamu itu, tapi semakin lama kamu semakin menjadi-jadi Citra, aku sudah tidak kuat”
Aku menunduk, terlintas olehku akan semua kesalahan yang telah aku lakukan padanya, tapi dia selalu memaafkanku hanya saja aku yang tidak pernah sadar dan terus melakukan kesalahan, sekarang Nina sudah beran-benar marah padaku.
“Aku minta maaf Nin, Cuma itu yang bisa aku katakan, tolong, kasih aku kesempatan”
“Sudah berulang kali aku kasih kamu kesempatan, sulit untuk memberikannya lagi, sekarang lebih baik kamu pulang, tidak ada gunanya kamu disini”
Tampa menunggu jawabanku, Nina lansung masuk kedalam rumahnya dan lansung menutup pintu.
“Nin, tolong dengarkan dulu, beri aku kesempatan, aku mohon”
*****
“Kamu didalam sayang?” Ku dengar suara mama dari balik pintu, aku bangun dari tempat tidur, menghapus air mataku dan membuka pintu.
“Boleh mama masuk?”
“Mama…”
Ucapku sambil memeluk mama, air mataku mengalir lagi, hatiku sakit sekali karna Nina tidak mau memaafkanku, satu hal yang aku inginkan disaat seperti ini, pelukan mama.
“Ma, Citra udah buat kesalahan yang besar, Citra bingung bagaimana cara menyelesaikannya, sekarang Citra harus kehilangan Nina, Citra sedih ma..”
Mama mengelus kepalaku yang tidur dipangkuannya, rasanya nyaman sekali.
“Mama sudah tahu masalahnya, ini adalah sebuah rintangan untuk kamu, yang perlu kamu lakukan sekarang adalah terus berjuang, mama yakin, secepatnya Nina pasti akan memaafkan kamu, asalkan kamu mau meminta maaf dengan tulus”
“Tapi ma, Nina mungkin tidak mau memaafkan Citra lagi, selama ini Citra selalu melakukan kesalahan dan Nina tetap mau memaafkan, tapi kali ini, ini semua karna wartawan majalah dinding sekolah itu ma, ini semua karna mereka”
“Mereka hanya penyebab, bukan yang salah, sekarang melihatlah kedepan dan coba untuk memperbaiki semua, satu hal lagi, rubah sikap manja kamu itu, adakalanya orang tidak suka berhadapan dengan orang yang manja, mengerti?”
Aku mengangguk, malam ini mama berhasil membuatku tenang, hatiku sedikit lega, malam terus berjalan begitu juga dengan waktunya, dipangkuan mama aku mataku mulai tertutup.
“Aku teman kamu kan?” tanyaku pada Nina.
“Tentu, kita teman dan akan terus jadi teman, jangan buat kesalahan yang bisa membuat pertemanan kita jadi keruh ya?, kamu mau kan?”
“Baik lah, aku janji!”
Kenangan itu kembali terlintas dipikiranku, saat-saat indah bersama Nina, apa semua harus berakhir dengan cara yang seperti ini?, aku tidak mau sama sekali tidak mau, hidupku adalah hidup Nina, hidup Nina adalah hidupku.
“Nina, aku salah”
Air mataku mengalir lagi, menangis lagi, rasanya pedih sekali kalau aku harus mengingat semua kesalahanku.
Hari-hariku terus berlanjut, tidak terasa festifal music hanya tinggal 1 hari lagi, tapi hubunganku dan Nina tidak berubah sama sekali, dia masih belum mau menegurku, untuk hari festifal, aku pasrah.
*****
Semua orang sudah berkumpul, tentunya dengan grup mereka masing-masing, hanya aku yang duduk sendiri di kursi tunggu peserta, semangat hidupku meredup seketika aku melihat para peserta lain terlihat kompak dengan anggota mereka.
“Bagaimana sayang?, jangan gugup ya?” Tiba-tiba mama datang menghampiriku, dan duduk disampingku.
“Tapi Citra tidak mungkin sendiri ma, semuanya punya grup tapi Citra Cuma sendiri, Citra takut ma”
“Kamu tidak sendiri, ada mama disini”
Mama tersenyum kearahku, lalu kemudian bangun dan melangkah pergi, aku sendiri lagi, tanganku mulai dingin kutarik nafas panjang untuk menenangkan kembali hatiku.
“Peserta selanjutnya, kepada nomor 55 diharap agar segera untuk naik kepanggung”
Hatiku berdetag semakin cepat, aku mencoba bangun dari kursi perlahan-lahan dan mulai melangkah keatas panggung, udara diatas panggung seolah menusuk tulangku, semua mata tertuju padaku saat aku sampai diatas panggung.
Suasana lansung hening, kucoba mendekati pengeras suara yang ada di tengah panggung.
“Selamat malam semuanya, pertama-tama saya ingin berterimakasih pada protokol yang telah memanggil nama saya, semuanya tentu heran dan bertanya-tanya kenapa saya sendiri diatas panggung ini”
Kembali kutarik nafas panjang.
“Dari hati yang paling dalam, saya ingin meminta maaf pada teman-teman saya, kak Putra, kak Dimas, Rian, dan terutama Nina atas kesalahan yang sudah saya lakukan”
Suasana yang hening menjadi semakin hening, semua orang hanya terdiam tak bersuara.
“Kami sudah memaafkan kamu”
Aku kaget mendengar suara seseorang dari belakang, begitu kulihat yang datang adalah kak Putra, Kak Dimas, Rian, dan orang yang sangat aku tunggu Nina. Mereka tersenyum dan lansung menuju alat music mereka masing-masing, aku sangat terharu akhirnya mereka memaafkanku.
Festifal music berjalan dengan lancar, bagiku itu sudah lebih baik, dan yang semakin membuatku senang adalah kehadiran teman-temanku, selesai tampil tak lama kemudian juri mengumumkan siapa yang menjadi pemenang, dan…
“Dan juara yang pertama, dengan sangat bangga kami berikan kepada peserta nomor 55, berikan tepuk tangan untuk mereka”
Semuanya bahagia, terlebih seperti yang aku rasakan, aku bahagia sekali hari ini, dua hal yang sangat beharga aku rasakan hari ini.
“Terima kasih Nina, sudah mau memaafkanku”
Kutarik tubuh Nina lalu memeluknya, Nina membalas pelukanku, terima kasih Nina, terimakasih sudah memaafkan kesalahanku, aku berjanji tidak akan membuat kesalahan lagi. Terimakasih…
Kenangan ini tidak akan pernah aku lupakan, akan kujadikan kenangan ini sebagai cerita terindah yang pernah ada dalam hidupku, cerita TERBAIK DARI SEMUA CERITA…
THE END


0 komentar:
Posting Komentar