Makcomblang? No more

on Jumat, 27 Januari 2012
“huft…, akhirnya selesai juga”
            Kurebahkan tubuhku ke kasur, rasanya penat sekali hari ini, selesai membatu ibu membereskan barang dagangan membuat semua tulangku ingin copot rasanya, cuaca yang panas membuatku malas keluar rumah, perlahan-lahan mataku mulai tertutup karena hembusan angin yang sepoi-sepoi, tapi tiba-tiba..
Kring….
            “Ah…, siapa yang menelpon disaat seperti ini?”
            Dengan rasa malas kuangkat telpon yang terus bordering itu.
            “Ni, kamu dimana?, aku butuh bantuan kamu, bisa datang kemari?, aku tunggu di taman kota  ya?”
            Tanpa menunggu jawabanku telpon lansung ditutup.
            “Sialan, siapa ini?” bisikku dalam hati.
            Dengan malas aku mencoba bangkit, mungkin itu Putri, tadi disekolah aku punya janji dengannya untuk menemani dia, tapi kalau sudah seperti ini rasanya malas sekali  untuk bergerak.
            “Bu, Nia keluar sebentar ya?”
            “Lho..tadi katanya mau istirahat, mau kemana?”
            “Ada janji dengan teman bu, Nia pergi dulu ya?, Assalamualaikum.”
            Kuambil motorku lalu pergi, kulihat kearah jam tanganku, masih menunjukkan jam 04;00 sore, untuk apa Putri menyuruhku datang ke taman kota?
Kring…
            Handponeku berbunyi lagi, tapi kali ini tidak aku perdulikan, biarkan lah saja dia berdering.
            “Sabar tuan Putri, huft…, tidak bisa menunggu ya?”
            Tak lama kemudian aku pun sampai ditaman kota, kuparkirkan motorku disamping pagar taman, lalu kakiku melangkah masuk.
Kring…
            Seperti yang aku duga, Putri pasti menelpon aku lagi, lansung saja kuangkat telponnya.
            “Hallo, Ni, kamu dimana?”
            “Aku pagar taman, kamu dimana?”
            “Ya sudah, tunggu aku disana ya?”
            Seperti biasa, Handponenya lansung tertutup, ini membuatku sedikit jengkel, dia pikir dia siapa?
            Tak berapa lama kemudian orang yang aku tunggu akhirnya datang juga.
            “Ayo ikut aku”
            “Come on girl, tadi kamu mengganggu aku dengan tiba-tiba menelpon saat aku sedang tidur, terus sekarang aku sudah tiba disini kamu mengajakku ketempat lain?”
            “Ayo dong ni, aku butuh bantuan kamu, sekali ini saja”
            Kutarik nafas panjang, memang susah kalau berhadapan dengan anak manja seperti Putri.
            “Ya sudah, tapi kali ini saja.”
            Putri tersenyum, lalu aku mengikuti kemana sang putri itu pergi, tak berapa lama kemudian kami pun tiba dilapangan basket yang letaknya tak jauh dari taman, Putri lalu mengajakku duduk di kursi penonton.
            “Aku dengar kamu makcomblang ya?”
            Ujarnya membuka pembicaraan.
            “Tapi bukan Profesional, cuma membantu teman yang butuh bantuan saja”
            Ujarku santai, mataku asyik melihat kesekeliling, banyak laki-laki yang sedang bermain basket, pemandangan yang menarik.
            “Nah…, kamu pasti bisa menolong aku, kamu kenal Dhani kan?, ketua tim basket sekolah kita, dia ada disana tuh!”
            Aku melirik kearah yang ditunjuk Putri, seorang laki-laki tinggi dengan tubuh yang tegap sedang berbicara dengan temannya, aku memang mengenalinya, ada beberapa juga dari temanku yang meminta kucomblangkan dengannya, tapi kutolak, alasannya sederhana, aku tidak suka dengan anak basket.
            “Begini, kamu mungkin belum tahu hal yang tidak aku suka”
            “Maksud kamu?”
            “Aku tidak suka berhubungan dengan anak basket”
            Wajah Putri menunjukkan bahwa ia tidak mengerti dengan apa yang aku katakan.
            “Biar aku perjelas, selama ini banyak temanku yang meminta dicomblangkan dengan anak basket, dan banyak juga yang aku tolak, alasannya sederhana aku tidak suka berhubungan dengan anak basket”
            “Yah Nia, ayolah…, cuma kamu yang bisa menolong aku sekarang ini, tolong dong, aku janji, kalau memang nanti aku berhasil jadian sama Dhani, aku akan kasih kamu hadiah, aku janji!”
            Putri benar-benar membuatku bingung, apa kata teman-temanku nanti kalau aku malah mau membantu hubungan Putri dan Dhani, ini sama sekali tidak adil untuk teman-teman yang kutolak permintaannya.
            “Nia, tolong dong, sekali ini saja!”
            Kugaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, apa yang harus aku lakukan sekarang?, senjata makan tuan aku ini.
            “Ya sudah, tapi begitu hubungan kalian mulai dekat, aku tidak mau ikut campur lagi”
            “Iya, aku janji, terimakasih ya ”
            “Sama-sama”
            Putri sepertinya senang sekali, dia tidak berhenti tersenyum, sedangkan aku sendiri tidak yakin ini akan berhasil atau tidak.
            “Kalau begitu, aku pulang dulu ya, besok aku temui kamu disekolah, tolong ya?”
            “Iya”
            Dia lansung pergi, setelah Putri pergi aku masih saja duduk dikursi penonton itu, tidak sengaja mataku kembali melirik kearah Dhani, dia sedang asyik dengan bola basketnya, dilihat dari penampilannya sepertinya dia bukan orang sombong seperti kebanyakan anak basket disekolahku.
            “Hmmm, baiklah, tidak ada salahnya kalau aku coba”
            Kulirik jam tanganku, sudah jam 05;35, aku lansung bangkit dari kursi lalu melangkah keluar lapangan, saat sedang asyik melangkahkan kaki, tepat dipintu masuk lapangan sebuah bola baset berguling kearahku dan berhenti tepat dikakiku.
            “Hei, tolong ambil bolanya!”
            Kudengar seseorang berteriak memintaku mengambil bola basket, ku ambil bola itu.
            “Terimakasih ya”
            Aku sedikit kaget begitu tahu yang mengambil bola itu adalah Dhani, sampai aku tidak menyahut apa yang dia katakan.
            “Hallo, terimakasih ya sudah mau mengambil bolanya”
            “Owh, iya sama-sama, ini”
            “Lho, kamu anak SMA Graha Bangsa kan?”
            Ujarnya lagi membuatku semakin bingung, bagaimana dia bisa tahu kalau aku murid SMA Graha Bangsa?
            “Owh, iya”
            “Main basket juga disini?, aku baru hari ini lho liat kamu”
            “tidak, tadi cuma liat-liat saja, ini sudah mau pulang”
            “Cepat sekali, sendirian saja?”
            Kenapa banyak Tanya? Biarkan aku pulang, ya ampun, Dhani membuatku mati kutu.
            “Tadi ada teman sih, cuma temannya sudah pulang, kalau begitu permisi ya, silahkan lanjutkan lagi main basketnya”
            “Oke, terimakasih ya udah mengambil bolanya”
            “Sama-sama”
            Aku lansung membalikkan badan dan pergi, aku rasa dia masih melihatku tapi aku tidak peduli, aku terus saja melangkahkan kakiku meninggalkan lapangan basket dan taman kota.
            “Apa semua anak basket banyak tanya?”
Ujarku dalam hati sambil terus membawa motorku pulang kerumah.

*****
            Tepat jam 10;30 bel istirhat berbunyi, semua siswa berhamburan kekantin.
            “Nia, jajan yuk”
            Ajak Icha, aku mengangguk, lalu kami pun berjalan kearah kantin.
            “Jajan apa?” tanyaku pada Icha.
            “Bakso?”
            Aku mengangguk, banyaknya orang yang ada dikantin membuat kami harus menunggu terlebih dulu, setidaknya sampai orangnya sedikit berkurang.
            “Aku beli minum dulu ya?”
            Aku bangkit dari kursi, tapi begitu aku bangun tidak sengaja aku menabrak seseorang dan membuat air putih yang dia bawa tumpah kebajuku.
            “Maaf, maaf, kamu tidak apa-apa kan?”
            “Tidak, aku tidak apa-apa”
            Ujarku sambil membersihkan bajuku, kulirik kearah orang tersebut, aku kaget bukan main, dia Dhani.
            “Lho, kamu yang kemarin kan?”
            Ujarnya begitu tahu kalau orang yang dia tabrak adalah aku.
            “Lho, kamu!”
            “Maaf ya, aku tidak sengaja menumpahkan airnya kebaju kamu, maaf ya”
            “Ya tidak apa-apa, justru aku yang seharusnya minta maaf, aku yang menabrak kamu, minumnya aku ganti ya?”
            “Tidak usah, tidak apa-apa maaf ya sudah membuat baju kamu basah”
            Aku hanya tersenyum, sekarang aku sudah mendapatkan lampu kuning untuk mencomblangkan Dhani dan Putri, akhirnya Dhani memutuskan untuk duduk satu meja denganku.
            “Nama kamu siapa?”
            Tiba-tiba disela pembicaraan kami, Dhani menanyakan namaku.
            “Nia, nama kamu Dhani kan?”
            “Kamu tahu nama aku?” Aku hanya tersenyum tipis.
            “Disekolah ini siapa sih yang tidak kenal dengan kamu?”
            Mengerti dengan maksudku, Dhani hanya tersenyum.
            “Hai semua!”
            Tiba-tiba Putri datang kemeja kami, sepertinya ini saatnya bagiku untuk membuat Dhani dan Putri bisa saling kenal, tidak banyak bicara, aku menyuruh Putri untuk duduk dimeja kami.
            “Dhani, kenalkan ini Putri temanku!” Ujarku basa-basi, Putri dan Dhani saling Berjabat tangan dan tersenyum, seketika itu mereka lansung akrab, dan saling bertanya satu sama lain.
*****
            Sudah dua minggu Dhani dan Putri terlihat akrab, sesuai perjanjian, aku tidak mau ikut campur lagi dengan hubungan mereka, tapi suatu hari ketika hendak pulang sekolah, aku bertemu dengan Dhani.
            “Hai!” Tegurnya.
            “Hai juga”
            “Akhir-akhir ini, aku sudah jarang lihat kamu, kemana saja?”
            Tanyanya tiba-tiba.
            “Owh, cuma dikelas, sekarang sedang banyak tugas, makanya jarang keluar kelas”
            Aku hanya tersenyum kearahnya.
            “Owh iya, ada acara hari ini?”
            “Sebenarnya tidak, tapi aku harus membantu ibu dirumah, jadi mungkin…”
            Aku tidak melanjutkan lagi kata-kataku, aku rasa Dhani sudah mengerti, bagaimana bisa dia mengajakku keluar sementara dia sedang dekat dengan Putri?
            “Baiklah, maaf mengganggu ya?, aku duluan”
            Aku hanya mengangguk, sebenarnya aku merasa bersalah menolak ajakan Dhani, tapi walau bagaimanapun aku tetap harus bersikap professional, aku tidak mungkin menerima ajakan Dhani, begitu Dhani sudah tidak terlihat aku kembali melangkahkan kakiku, tapi tiba-tiba…
            “Ayo naik, aku antar kamu hari ini”
            Tepat dihadapanku mobil Putri berhenti, aku menatapnya sejenak.
            “Tidak perlu repot-repot, aku bisa pulang naik bus”
            “Sudah lah, jangan menolak, aku juga mau mengajak kamu makan siang, ada yang ingin aku bicarakan”
            Ada apa lagi?, bukankah seharusnya dia tidak menggangu hidupku lagi, begitu memaksakan kehendaknya sendiri, aku diam sejenak dan menarik nafas panjang.
            “Ayolah, ada yang ingin aku bicarakan, ini penting!”
            Untuk kesekian kalinya aku mengalah, kubuka pintu mobilnya lalu masuk, tak lama kemudian mobil Putri lansung meninggalkan sekolah, dia mengajakku kesebuah restoran yang letaknya tidak begitu jauh dari sekolah.
            Begitu tiba kami lansung memilih meja dan duduk, pelayang datang membawa kami menu pesanan, tidak ingin lama-lama aku memesan apa yang dipesan Putri.
            “Kamu mau bicara apa?”
            Ujarku membuka pembicaraan.
            “Owh iya, sebelumnya aku ucapkan terimakasih karna kamu sudah mau mencomblangkan aku dan Dhani, sekarang kami sudah sangat akrab”
            Ujarnya sambil tersenyum kearahku.
            “Sama-sama, itu sudah menjadi tugasku, lalu sekarang ada apa?, bukankah tugasku mencomblangkan kalian sudah selesai?, dan sesuai dengan perjanjian kita, aku tidak mau ikut campur lagi dengan hubungan kalian”
            “Aku mengajak kamu kemari karena aku punya hadiah untuk kamu, ini, mungkin tidak seberapa, tapi aku sangat berterimakasih karena kamu sudah sangat membantu”
            Didepanku ada sebuah kado besar yang dikeluarkan Putri dari tasnya, aku hanya diam melihat kado itu.
            “Sesuai dengan hadiah yang aku janjikan dua minggu yang lalu, dan sekarang aku berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi”
            Aku mengangguk, bagiku lebih melegakan jika Putri tidak mengangguku lagi, setelah selesai makan, Putri mengantarkan aku pulang kerumah dengan kado yang ia berikan.

*****
            Hari ini, saat jam istirahat, aku lebih memilih membaca buku yang baru saja kupinjam dari perpustakaan di depan kantin, sedang asyik membaca buku tiba-tiba handponeku berdering.
            “Hallo” Ucapku.
            “Nia, ini Icha, dari tadi aku mencari kamu tapi tidak ketemu, ibu Indah memanggilmu kekantor, katanya tentang program beasiswa kamu, kamu ditunggu dikantonya sekarang!”
            “Baiklah, terimakasih imformasinya”
            “Sama-sama”
            Telponya terputus, kumasukkan handponeku kedalam saku lalu bangun dari kursi yang semula aku duduki, sambil mata masih tetap membaca buku yang ku pegang, begitu asyiknya sampai aku tidak sadar kalau arah yang kuambil berlawanan dengan arah kantor bu Sari, aku sedikit kesal, kulangkahkan kakiku lagi, kali ini kearah yang benar.
            “Hei!!, awas!!”
            Tiba-tiba saat melintas dilapangan olahraga, sebuah bola basket meluncur kuat kearahku, buk!!!, bola basket itu tepat mengenai kepalaku, rasanya sakit sekali, dunia serasa berputar, tubuhku lemah.
Bruk!!!, tubuhku ambruk ketanah, pandangaku mulai buram, samar-samar kulihat Dhani berlari kearahku, tapi setelah itu semuanya terasa gelap…
            “Nia, kamu tidak apa-apa kan?, Nia bangun!”
            Suara Dhani sudah tidak terdengar lagi, tak lama kemudian aku terbangun, aku memegang kepalaku yang masih terasa sakit, tapi satu hal yang membuatku bingung, aku tidak tahu aku sedang berada dimana, semuanya terlihat gelap, tapi dari kejauhan aku melihat seorang kakek-kakek datang menghampiriku.
            “Kamu Nia?”
            Katanya tiba-tiba membuatku bingung.
            “Iya, kakek siapa?”
            “Tidak perlu tahu siapa saya, tapi yang harus kamu tahu, kamu sudah melakukan satu kesalahan yang sangat fatal”
            “Kesalahan?, maksud kakek apa?”
            Kakek itu tertawa, suaranya menggema membuatku jadi takut.
            “Kalau kamu masih menjadi makcomblang, kamu akan mendapatkan sial sampai umurmu 30 tahun, karena itu, kamu harus berhenti menjadi makcomblang”
            “Maksud kakek apa?, saya benar-benar tidak mengerti”
            “Sudah!, turuti saja kata-kataku, dengar!!”
            Tiba-tiba sang kakek mengeluarkan sebuah cambuk dan mengibaskannya kearahku, salah satu kibasan cambuk tepat mengenai lenganku membuatku tersentak.
            “Nia, kamu sudah sadar?”     
            Tiba-tiba aku mendengar suara bu Sari memanggilku,perlahan kubuka mataku yang terasa sangat berat, kepalaku masih terasa sakit, disampingku ada Icha, dan beberapa murid yang lain, disamping bu Sari aku melihat Dhani.
            “Nia, kami minta maaf, karna bola basket kami, kamu jadi pingsan seperti ini”
            Ujarnya padaku, anak-anak basket yang lain juga ikut meminta maaf.
            “Tidak apa-apa, aku juga salah, keasyikan membaca buku, aku jadi tidak focus pada jalanku sendiri”
            Seisi ruangan UKS hanya tersenyum mendengar penuturanku, tak lama kemudian bu Sari dan Icha serta teman-teman yang lain keluar dari UKS agar aku bisa istirahat, tapi Dhani masih tetap tinggal.
            “Kamu benar tidak apa-apa?, masih sakit kepalanya?”
Tanya Dhani begitu yang lain sudah keluar.
            “Sudah, aku tidak apa-apa, jangan khawatir”
            Sejenak aku dan Dhani terdiam, lalu…
            “Nia, ada yang ingin aku katakan, sebenarnya ini sudah ingin aku katakan dari kemarin, tapi karena kamu bilang kamu sedang tidak punya waktu, akan aku katakan sekarang”
            “Ada apa?”
            “Sebenarnya, aku suka sama kamu, sudah sejak pertama kita bertemu, tapi aku baru berani mengatakannya sekarang”
            Dahiku berkerut, apa-apaan ini? Kenapa Dhani jadi suka padaku dan bukan pada Putri?, apa yang sudah terjadi?
            “Kamu jangan marah ya?, tapi aku hanya ingin kamu tahu isi hatiku”
            “Nia!!!”
            Tiba-tiba aku mendengar seseorang berteriak, aku memalingkan wajahku dan begitu kagetnya aku begitu tahu yang berteriak adalah Putri.
            “Dasar, aku tidak menyangka kamu melakukan ini padaku, kenapa kamu jahat sekali?”
            “Maksud kamu apa?,aku dan Dhani tidak punya hubungan apa-apa, percaya padaku Putri!”
            “Tidak!!!”
            Tiba-tiba sebuah tamparan panas mendarat dipipiku, rasanya sakit sekali…
            “”Au!!!”
            Seluruh tubuhku sakit, kubuka mataku, begitu sadar kalau aku terjatuh dari tempat tidur, sakil sekali rasanya.
            “Huft, sial, cuma mimpi rupanya, au!!, tubuhku sakit semua”
            “Kamu kenapa Nia?”
            Tiba-tiba kulihat ibu berdiri dipintu kamarku, masih samar-samar lalu kuusap kedua mataku.
            “Itu ibu?”
            “Tentu saja, kamu pikir siapa?, ibu lelah memanggilmu, rupanya kamu sedang enak-enaknya tidur, diluar ada yang mencarimu, kalau tidak salah namanya Putri”
            Mendengar nama Putri mataku lansung terbelalak, kulihat jam tanganku, sudah jam 05;00, aku menarik nafas panjang, hanya tidur satu jam aku sudah mimpi buruk.
            “Apa lagi yang kamu fikirkan Nia?, temanmu sudah menunggu dari tadi, cepat temui!”
            “Baik ibu”
            Aku bangun dari lantai lalu berjalan menuju ruang tamu, disana kulihat Putri sedang duduk sendirian.
            “Ada apa datang kemari?”
            Ujarku dan lansung duduk didepannya.
            “Dari tadi aku telpon ke handpone kamu tapi tidak kamu angkat, ya sudah aku lansung kemari saja, kemana saja kamu?”
            “Tadi tertidur, ada apa?”
            “Begini, aku butuh bantuanmu, aku dengar kamu makcomblang ya?, tolong bantu aku, kamu kenal Dhani kan?, ketua tim basket sekolah kita, aku minta tolong sama kamu, comblangkan aku dan Dhani ya?”
            Mendengar kata Dhani dan comblang, aku lansung ingat akan mimpiku tadi.
            “Kalau kamu masih menjadi makcomblang, maka kamu akan mendapatkan sial sampai umurmu 30 tahun”
Kata-kata sang kaket masih tengiang ditelingaku, aku lansung merinding.
            “Maaf Putri, bukannya aku tidak mau, tapi mulai saat ini aku tidak menjadi makcomblang lagi, kamu cari saja orang lain yang bisa membantu kamu, tapi bukan aku”
            “Kenapa seperti itu?, tidak ada makcomblang sehebat kamu, tolong aku Nia”
            “Maaf aku tidak bisa, kamu cari yang lain saja ya?, maaf”
            Wajah Putri berkerut, aku tahu mungkin Putri kecewa, tapi mengingat mimpi tadi benar-benar membuatku takut, ternyata menjadi makcomblang itu sama sekali tidak mengasyikkan, belum lagi jika apa yang dikatakan kaket tua itu benar-benar terjadi, aku takut sekali.
            Tak lama kemudian Putri pamit pulang pada ibuku, aku tahu dia kesal karena aku tidak membantunya, tapi menurutku sekarang, menjadi orang yang biasa sangat menyenangkan, aku tidak perlu lagi susah-susah memikirkan hubungan orang lain, kisah hidupku sudah indah tanpa harus menjadi seorang makcomblang, dan kisah ini akan selalu aku kenang sebagai kisah terbaik yang pernah ada dalam hidupku dan tidak akan terlupakan selamanya.
            Hanya satu  hal sekarang yang ada dalam fikiranku, MAKCOMBLANG?, NO MORE…



THE END…

0 komentar:

Posting Komentar